Jumat, 07 Juni 2013

Setiap orang dimuka bumi ini pasti memiliki seorang ibu yang tulus mencintai anaknya. Tapi mengapa mereka tidak menggangapnya seperti seseorang yang istimewa dalam hidupnya? melainkan hanya orang biasa yang sepintas lewat dalam hidupnya.
 

Terinspirasi dari 9 summer 10 autumns

Berbekal sebuah laptop yang selalu menemani dikala sepi, sebuah modem yang menjadi motor untuk menjalankan suatu jaringan internet, dan listrik yang mendukung penulisan ini.
Dari sebuah trailer yang baru saja saya searching di google, sangat sekali menginspirasi dan mengubah suatu pemikiran ke arah masa depan, kearah mimpi setinggi-tingginya yang bisa diwujudkan secara visioner dan nyata. Film yang diangkat dari novel yang berceritakan seseorang dari kota malang sampai bekerja di new york city. ''From apple to the big apple''

Sinopsis pendek:
Seorang anak dari latar keluarga miskin tinggal di sebuah gubuk yang berisikan 9 orang didalamnya. Ia adalah Iwan seorang anak yang takut miskin ketimbang takut hantu. Ayahnya seorang supir angkot hanya lulusan smp, sedangkan ibunya sd pun tidak lulus. Iwan memiliki 6 orang saudara yang semuanya perempuan. Cita-citanya sederhana ''Tidak ingin hidup susah, dan ingin membangun sebuah kamar kecilnya dengan hasil kerja kerasnya nanti''. Iwan cenderung pintar dalam hal hitung-menghitung menurutnya '' Number is beautifull for me''. Berlatar belakang kehidupan yang dibawah sederhana di kota malang, untuk makan saja masih pas-pasan apalagi untuk sekolah tinggi?. Ketika itu Iwan diundang dari universitas untuk memilih perguruan tinggi lewat jalur undangan (PMDK), Alhamdullilah, Ia lolos di Perguruan Tinggi ''Institut Pertanian Bogor'' (IPB) jurusan statistika. Tetapi yang masih dipikirkannya adalah dari mana biaya yang akan   digunakan untuk kuliah sampai menjadi sarjana?. Ibunya memiliki suatu konsep bahwa anaknya harus sekolah dan tidak ingin jadi hidup susah. Akhirnya sang Ibu menjual Angkot milik Ayahnya yang digunakan sehari-hari untuk mencari nafkah demi untuk membiayai Iwan sekolah.
Alhasil Iwan menjadi  mahasiswa lulusan terbaik di IPB jurusan Statistika, dengan bermodalkan tekad yang kuat, ia bekerja di sebuah perusahaan yang masih berada di Indonesia. Beberapa tahun ia bekerja di perusahaan tersebut sampai akhirnya direkrut oleh Perusahaan di new york city. Disanalah ia menjadi seseorang yang memiliki jabatan yang paling tinggi yaitu Direktur. Sangat hebat bukan? Tapi 10 tahun ia bekerja di New York, ia tidak lupa daerah asalnya di Malang tempat kelahirannya. Baginya '' Money is Important but is not everything.'' akhirnya ia pulang kembali ke daerah asalnya Malang untuk memenuhi keinginannya untuk membangun kamar yang layak.

Yang menjadi Inspirasi bagi saya adalah semangat yang gigih akan apa yang diinginkannya, kacang tidak lupa pada kulitnya, maksudnya adalah tidak bekerja untuk negara lain, tetapi bekerja untuk negara sendiri dan memajukan kesejahteraan bangsa. Selalu mengagumi orang yang sangat penting dalam hidupnya, yaitu IBU.
Semangat yang tak pernah pudar, dan Selalu ingat atas nikmat yang diberikan-Nya.

Iwan seorang mahasiswa IPB jurusan Statistika yang sangat berprestasi, membahagiakan orang tua, cinta tanah air, dan mencitai sosok ibunya.

Dengan itu saya menjadi termotivasi untuk terus maju dan menjadi orang yang sukses, berguna bagi orang tua,masyarakat, nusa dan banggsa. menjadi lulusan terbaik di IPB jurusan Agronomi dan Holtikultura. Melanjutkan kuliah S2 di kota jepang tepatnya di tokyo university.
Semoga yang membaca postingan saya kali ini dapat mendoakan saya dengan ikhlas dan hati yang lapang :)